
Dampak AI suku bunga perlu dianalisis lebih dalam oleh bank sentral Amerika Serikat sebelum mengambil keputusan kebijakan ke depan. Hal ini disampaikan oleh Mary Daly, Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco.
Menurut Daly, kecerdasan buatan berpotensi mengubah produktivitas, pasar tenaga kerja, dan inflasi. Oleh karena itu, Federal Reserve tidak bisa mengabaikan peran AI dalam menentukan arah kebijakan moneter.
AI dan Tantangan Kebijakan Moneter
AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun, teknologi ini juga dapat menggeser jenis pekerjaan tertentu. Perubahan tersebut berpengaruh langsung pada upah dan permintaan tenaga kerja.
Dengan demikian, dampak AI suku bunga menjadi isu penting. Fed harus memahami apakah AI menekan inflasi atau justru memicunya melalui lonjakan produktivitas dan konsumsi.
Sikap Fed dalam Menentukan Suku Bunga
Daly menegaskan bahwa Federal Reserve akan tetap berbasis data. Sementara itu, faktor teknologi seperti AI perlu dimasukkan dalam analisis jangka menengah.
Ia menyebut keputusan suku bunga tidak bisa hanya bergantung pada indikator tradisional. Sebaliknya, Fed harus membaca perubahan struktural ekonomi yang lebih luas.
Dampak AI terhadap Inflasi dan Produktivitas
AI berpotensi menurunkan biaya produksi. Akibatnya, tekanan harga bisa mereda dalam jangka panjang. Namun, adopsi AI juga memerlukan investasi besar.
Di sisi lain, investasi tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini membuat arah inflasi menjadi lebih sulit diprediksi.
Pandangan Analis Ekonomi
Sejumlah analis sepakat bahwa AI menjadi variabel baru dalam kebijakan moneter. Oleh sebab itu, bank sentral global mulai memperhatikan implikasi teknologi ini.
Mereka menilai Fed harus berhati-hati agar tidak salah membaca sinyal ekonomi. Kesalahan analisis dapat berdampak pada stabilitas pasar.
